Feature Sejarah : Kerupuk Intip dan Legondo untuk Sesaji di Makam Ki Ageng Perwito Desa Ngreden



Makam Ki Ageng Perwito

Makam Ki Ageng Perwito adalah salah satu tempat wisata di Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah. Terletak di Jl. Desa Ngreden, Ngreden, Wonosari, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah 57473, Indonesia sekitar ±7.53 Km dari Kantor Bupati Klaten.

Desa Ngreden awalnya merupakan suatu daerah yang sangat sepi penduduknya, awal tahun 1711 seiring dengan berdirinya Kerajaan Mataram Jogjakarta seorang putra Raja Demak Pujangga Pajang bernama Ki Ageng Perwito datang bersama prajuritnya dan berdomisili di daerah ini. Lambat laun daerah ini menjadi berkembang atau dalam bahasa jawa ngerda, sehingga orang-orang menyebut daerah ini menjadi desa Ngreden. 

Ki Ageng Perwito merupakan putra keempat dari Sultan Trenggono yang mengabdi Pujangga dan Panglima Perang Kerajaan Pajang pada masa Sultan Hadiwijaya yang merupakan adik iparnya dan ikut pindah ke Kerajaan Pajang. Sebelumnya, Kerajaan Demak dipindah oleh Joko Tingkir Ke Pajang dan Joko Tingkir sendiri bergelar Sultan Hadiwijoyo I.

Sebelum mengabdikan dirinya ke Kerajaan Pajang, Ki Ageng Perwito mendapatkan wasiat dari Sultan Syeh Alam Akbar III, agar apabila sudah sampai waktunya Ki Ageng Perwito mengabdikan dirinya kepada orang yang menerima wahyu bukan orang yang kepulungan (keberuntungan). 

Selama tinggal di Desa Ngreden, Ki Ageng Perwito menjadi juru kasepuhan(orang yang dituakan). Selain itu bentuk pengabdian beliau selama menjalani kehidupan sehari-harinya adalah membantu masyarakat yang sedang membutuhkan dan mengobati orang sakit. Wujud pengabdian yang dilakukan oleh Ki Ageng Perwito di masa tuanya adalah beliau memutuskan untuk tapa ngluweng didalam kediamannya atau padepokanya dengan tujuan untuk membantu setiap kesulitan umat.  Ki ageng Perwito selain bertani juga sesepuh yang menjadi sumber dari ilmu kehidupan sehari-hari(kasepuhan) dan mengobati orang yang sakit. Sehingga semakin lama kehidupan daerah tersebut semakin ramai. 

Tapa tersebut dilakukan selama 40 tahun 41 hari didalam lubang yang menyerupai kuburan atau liang lahat. Sebagai alat bantu komunikasi beliau ialah tali yang diikatkan pada jarinya dan dihubungkan ke atas liang lahat tersebut, ketika petang tali akan dicek oleh cantriknya(murid). Apabila mendapatkan jawaban 2 kali tarikan dari Ki Ageng Perwito tandanya beliau masih hidup, kalau tidak ada jawaban maka penutup luweng dibuka.

Hingga pada suatu hari cantrik kepercayaanya lupa menarik tali dan pada waktu ditarik talinya lepas. Sehingga menimbulkan masalah pada waktu itu mau dibuka atau tidak. Melalui musyawarah yang begitu alot hingga tengah malam akhirnya ada suara dari dalam luweng tersebut yang mengatakan “Sapa wae anak cucuku sing nandang kasusahan moro o mrene bakal dakwenehi pepadang tak suwunake Pangeran lantaran sliraku'”, yang artinya siapa saja anak cucuku yang dapat kesusahan kemarilah, akan aku beri petunjuk dan kupintakan kepada Allah melalui aku.


Intip dan Legondho

Tradisi ini merupakan peninggalan dari para sesepuh Desa Ngreden yang konon katanya masih ada kaitanya dengan keberadaan Ki Ageng Perwito, tradisi yang sudah turun temurun tersebut masih dilakukan oleh sebagian masyarakat Desa Ngreden hingga saat ini. Tradisi yang berupa berdagang intip dan ‘leghondo’ setiap malam Jumat di pinggir jalan Ki Ageng Perwito. Mereka yang masih berjualan hingga saat ini berjumlah sekitar 5 sampai 6 orang.

Menurut Sucipto, dahulu tahun 1980-1990an masih banyak pedagang bahkan mencapai puluhan pedagang pada saat masih banyak peziarah ke makam Ki Ageng Perwito. Pedagang yang hingga saat ini masih melakukan tradisi tersebut mempercayai bahwa adanya keberkahan dari tradisi berdagang tersebut. Menurut Paniyem, walaupun berdagang hanya seminggu sekali mampu menguliahkan putra putrinya. Mereka biasanya berdagang mulai dari pukul 14.00 hingga larut malam, menggunakan tenggok dan sentir (lampu teplok), dan mengenakan jarik duduk bersila di pinggir jalan Ki Ageng Perwito.

Konon katanya intip dan ‘leghondo’ merupakan makanan kesukaan dari Ki Ageng Perwito. Masyarakat Desa Ngreden menganggap bahwa intip dan ‘leghondo’ tersebut memiliki filosofi yang dapat diambil pelajarannya. Misalnya Intip yakni ‘intine qholbu’ dan ‘leghondo’ adalah ‘lego ing dhodo’. Dahulu para peziarah setiap berziarah ke makam Ki Ageng Perwito selalu membawa oleh oleh jajanan tersebut. Menurut Sucipto, konon dahulu kalau berziarah tidak membeli makanan tersebut belum berasa kalo ziarah. 

Secara logisnya, sebetulnya tradisi tersebut masih relevan untuk selalu dilestarikan karena mampu untuk menopang UMKM Desa Ngreden yang dapat dikaitkan dengan Wisata Religi. Karena itulah, dengan menyediakan sesaji itu saat berziarah, hal ini diyakini sebagal upaya untuk melobi arwah Ki Ageng Perwito agar berkenan membantu. Dan kabarnya telah banyak orang yang berhasil mewujudkan harapannya, setelah menjalankan ritual di makam sang tokoh. 

Kerupuk intip sendiri adaläh sejenis makanan ringan yang dibuat dari bahan nasi yang mengering di dasar panci, karena proses pemasakan. Nasi yang kemudian akan membentuk seperti wadah di mana dia dimasak itu, selanjutnya dikeringkan dan kemudian digoreng. Sedangkan legondo atau ada pula yang menyebutnya lepet adalah sejenis makanan yang terbuat dari beras ketan bercampur kelapa, dan kemudian dibungkus daun janur. Makanan bertekstur liat dan gurih ini diyakini merupakan akronim dari kata oleh bondo atau mendapatkan harta. Sehingga bagi mereka yang ingin mendapatkan kelancaran rejeki atau bahkan kelimpahan harta, diwajibkan untuk menyediakan sesaji ini saat berziarah di makam Ki Ageng Perwito.

Sedangkan legondo atau ada pula yang menyebutnya lepet adalah sejenis makanan yang terbuat dari beras ketan bercampur kelapa, dan kemudian dibungkus daun janur. Makanan bertekstur liat dan gurih ini diyakini merupakan akronim dari kata oleh bondo atau mendapatkan harta. Sehingga bagi mereka yang ingin mendapatkan kelancaran rejeki atau bahkan kelimpahan harta, diwajibkan untuk menyediakan sesaji ini saat berziarah di makam Ki Ageng Perwito. 

Selanjutnya sebelum datang dan berdoa di makam ini, ada anjuran agar bersuci di Sendang Tretes yang berada tak jauh dari lokasi makam. Sendang ini adalah tempat di mana Ki Ageng Perwito menjalankan ritual serta bersuci, semasa hidupnya. Di sendang yang diyakini dijaga dua ekor bulus gaib raksasa, Ki Ageng Perwito kerap mendapatkan petunjuk, termasuk perintah menjalankan tapa ngluweng, hingga di akhir hayatnya. Makam Ki Ageng Perwito banyak dikunjungi peziarah khususnya pada malam Jumat Wage.



Comments

Popular posts from this blog

Feature Kuliner :Kepel Khas Klaten

Feature : Muktamar ke 48 di Universitas ku

RIWAYAT KINI DAN DULU, WARUNG APUNG ROWO JOMBOR