FEATURE HUMAN INTEREST: KISAH AYAHKU SEORANG SATPAM
Tahun 2001 menjadi awal ayahku yang bernama Haryono atau
yang biasa dipanggil dengan sebutan bapak macan, karena memiliki tato kepala
macan yang memenuhi dadanya. Menjalani profesi sebagai satpam, keputusan
memilih pekerjaan sebagai satpam karena berbekal pendidikan militer di RINDAM
Magelang.
Mendapatkan sertifikat militer bukan karena ayahku seorang
tentara namun pernah menjadi anggota Kamra (Kemanan Rakyat) Pasca reformasi,
keadaan di Indonesia masih belum stabil. Masih banyak kekerasan diberbagai
sudut tanah air, padahal tahun 1999 akan diadakan pemilihan umum. Personil
polisi yang tersedia dirasa kurang memadai sehingga dibentuk satuan pengamanan
tambahan yang bernama Kamra atau Keamanan Rakyat.
“Kamra statusnya dibawah kepolisian, bertugas bersama polisi
di setiap sektor. Sehari-hari melaksanakan tugas bersama para anggota polisi.
Kamra dibentuk 18 Februari 1999, berdasar kepada Undang-undang No. 20/1982
mengenai Pokok-Pokok Keamanan dan Pertahanan Negara, yang mengakui hak setiap
warga negara untuk membela negara. Kamra ini orang-orang terlatih lho,
bukan sembarangan rekrut. Mereka mendapat pendidikan dasar-dasar bela negara
dan bela diri di Sekolah Polisi Negara (SPN) selama tiga minggu, ujar
ayahku”.
Ketika bertugas kamra hanya dibekali pentungan kayu dan
belati, karena tugas pokoknya hanya membantu polisi mengamankan kondisi dan
mejaga ketertiban umum bukan menindak kejahatan. Seragamnya warna abu-abu,
dengan tulisan kamra disisi kiri dan nama personel di sisi kanan. Tidak lupa
logo polda wilayah tugas.
Nasib yang kurang enak diterima personil Kamra pasca pemilu
1999, satu tahun setelahnya satuan ini dibubarkan menteri pertahanan karena
Dephan saat itu tidak memiliki cukup anggaran. Sebagian personil memilih
mencoba masuk ke TNI atau Polri, sebagian lainnya kembali ke pekerjaan semula
(sebelum masuk Kamra).
“Karena waktu itu aku tidak punya uang sebesar RP250.000
untuk melanjutkan menjadi TNI, dan ada lowongan kerja security perumahan mewah
di Solo Baru . Akhirnya bekerja menjadi satpam, ujar ayahku.”
Sudah lebih dari 20 tahun Ayahku menekuni profesi sebagai
satpam. Bekerja di berbagai perusahaan dan perumahan elit akhirnya ayahku bekerja
di sebuah Perusahaan tekstil di Sukoharjo sudah 9 tahun lamanya, dengan
pekerjaannya sebagai seorang Satpam dengan upah yang sangat kecil tapi Ayahku
tetap menerima pekerjaan tersebut.
Ayahku memulai pekerjaannya dengan sangat semangat dan
bahagia,tiap pagi Ayahku berangkat kerja dengan seragam yang di berikan
perusahaan kepadanya dia sangat bangga dengan seragam dan profesi yang di
embannya itu.
Ayahku yang berprofesi sebagai SATPAM tersebut tak pernah
mengenal lelah dan capek dia terus bekerja,dia sangat sungguh-sungguh dan
bertanggung jawab dalam melakukan pekerjaan nya, dia selalu mematuhi aturan
yang diberikan atasannya kepadanya, Ayahku tak pernah berberat hati jika dia
disuruh oleh atasannya.
Ayahku mempunyai seorang Istri dan satu orang buah hati yang
menjadi penyemangat Ayahku dalam bekerja, Ayahku bekerja keras demi menghidupkan
keluarga kecilnya.
Setiap Ayahku mendapatkan rezeki dari tempat pekerjaan nya
dia tak pernah lupa untuk bersyukur kepada dia yang memberi pekerjaan yaitu
sang pencipta.
Ayahku yang berprofesi sebagai SATPAM tersebut terkadang
merasa malu dan minder terhadap orang-orang yang disekitarnya karena dia sering
dihina dan di cemooh oleh orang yang lebih mapan dari dia karena pekerjaan yang
dia miliki hanya seorang Satpam.
Ayahku enggan untuk bergaul bagi orang-orang di sekitarnya
tersebut. Tapi di suatu saat Ayahku mencoba untuk tak peduli dengan kata-kata
orang dia mencoba menunjukan kepada mereka bahwa seorang Satpam itu juga bisa
bergaul ditengah-tengah masyarakat lainnya. Dia mencoba untuk menjauhkan
dirinya dari rasa malu dan minder karena pekerjaan nya tersebut.
Tempat kerja Ayahku tersebut adalah sebuah perusahaan
Tekstil di Kabupaten Sukoharjo yang tidak jauh dari rumah hanya 12 km dengan
jarak tempuh 20 menit. Dengan Pelanggan yang sangat banyak sehingga setiap hari
masyarakat berkunjung di tempat kerja Ayahku tersebut. Disana juga dia
terkadang malu karna sering di bentak, dihina, oleh yang berkepentingan di
tempat dia bekerja dia sudah sangat dianggap kecil oleh orang-orang tersebut,
banyak yang tak menghiraukan perkataanya karena dia seorang satpam, apalagi
mereka yang punya pengaruh tinggi dan besar di tempatnya.
Ayahku terus menahan diri dan emosinya untuk menghadapi
mereka orang banyak demi mempertahankan pekerjaan yang dia miliki, karena
pekerjaan itu yang bisa menghidupkan Istri dan anaknya.
Ayahku berangkat kerja setiap pagi dengan semangat yang
tinggi dan pulang malam dengan badan yang letih demi mewujudkan kan
mimpi-mimpinya, dia selalu berharap ada perubahan besar dalam hidup
keluarganya. Meskipun tidak ada hari libur yang diberikan oleh pihak
perusahaan, hingga hari raya dan tanggal merah ayahku tetap masuk kerja.
Menjaga kehormatan diri dan satuan, selalu bersikap waspada dan menjaga ketertiban. Kemudian, tidak menganggap remeh masalah kecil apapun yang terjadi di lingkungan. "Jadi satpam juga punya prinsip dasar. Kalau di polisi kan Tri Brata, kalau di TNI Sapta Marga. Kalau kita juga punya," jelas ayahku.
Sudah menjadi kewajiban seorang satpam untuk menjadi pelayan sekaligus pengaman. Misalnya di Bank, bersikap ramah terhadap nasabah. Begitu juga di tempat lain, melakukan pengamanan. Sebut saja di pabrik atau di perkantoran.
Tidak cuma ilmu dasar pengamanan dan latihan fisik, calon Satpam juga diberikan ilmu psikologi. Tujuannya, agar para satpam bisa memahami kondisi orang sekitar. "Terus cara memperlakukan orang yang kita ajak ngomong itu juga kita diajarin," kata ayahku.
Commet
ReplyDelete